BAB 9 ANALISIS REGRESI KORELASI
Analisis
regresi mempelajari bentuk hubungan antara satu atau lebih variabel bebas (X) dengan satu peubah tak bebas (Y). dalam penelitian peubah
bebas ( X) biasanya peubah yang ditentukan oleh peneliti secara bebas misalnya
dosis obat, lama penyimpanan, kadar zat pengawet, umur ternak dan sebagainya.
Disamping itu peubah bebas bisa juga berupa peubah tak bebasnya, misalnya dalam
pengukuran panjang badan dan berat badan sapi, karena panjang badan lebih mudah
diukur maka panjang badan dimasukkan kedalam peubah bebas (X), sedangkan berat
badan dimasukkan peubah tak bebas (Y). Sedangkan peubah tak bebas (Y) dalam
penelitian berupa respon yang diukur akibat perlakuan/peubah bebas (X).
misalnya jumlah sel darah merah akibat pengobatan dengan dosis tertentu, jumlah
mikroba daging setelah disimpan beberapa hari, berat ayam pada umur tertentu
dan sebagainya.
Bentuk hubungan
antara peubah bebas (X) dengan peubah tak bebas (Y) bisa dalam bentuk polinom
derajat satu (linear) polinom derajat dua (kuadratik). Polinom derajat tiga
(Kubik) dan seterusnya. Disamping itu bisa juga dalam bentuk lain misalnya
eksponensial, logaritma, sigmoid dan sebagainya. Bentuk-bentuk ini dalam
analisis regresi-korelasi biasanya dilakukan transformasi supaya menjadi bentuk polinom.
Dalam bentuk yang paling sederhana yaitu satu peubah bebas (X) dengan satu
peubah tak bebas (Y) mempunyai persamaan:
Y =a +bx
Disini a disebut intersep dan b adalah koefisien
arah atau koefisien beta.
Dalam pengertian
fungsi persamaan garis Y + a + bx hanya ada satu yang dapat dibentuk dari dua
buah titik dengan koordinat yang berbeda yaitu ( X1, Y1)
dan X2,Y2). Hal ini berarti kita bisa membuat banyak
sekali persamaan garis dalam bentuk lain melalui dua buat titik yang berbeda
koordinatnya/tidak berimpit.
Persamaan garis melalui dua buah titik dirumuskan sebagai berikut:
Sebagai
contoh misalnya titik A (1,3) dan titik B ($,9) maka persamaan garis linear
yang dapat dibuat adalah:
Dalam bentuk
matrik bisa kita buat persaman sebagai berikut:
Jadi a=1 dan b=2 sehingga persamaannya Y=1 +2X
Jika jumlah data sebanyak n maka persamaannya
sebagai berikut:
Disini βo adalah penduga a, β1 adlah penduga b dan εi merupakan besarnya simpangan persamaan garis penduga. Semakin kecil nilai εi persamaan regresi yang diperoleh akan semakin baik.
Jadi kita
dapat menuliskan pengamatan kita menjadi:
Dengan
notasi matriks dapat ditulis sebagai berikut:
Jadi kita peroleh matrik Y,X,β dan ε dengan dimensi
sebagai berikut :
Jika diasumsikan E(ε) = 0 maka E(Y) = Xβ
Bila modelnya benar β merupakan penduga terbaik yaitu dengan jalan melakukan
penggandaan awal dengan X’ sehingga diperoleh persamaan normal sebagai berikut:
Jadi β=(X’X)-1X’Y
Disini(X’X)-1
adalah kebalikan (inverse) dari matrik X’X
Contoh :
Seorang peneliti ingin mengetahui bentuk hubungan antara jumlah cacing jenis
tertentu dengan jumlah telurnya pada usus ayam buras. Untuk tujuan tersebut
diperiksa 20 ekor ayam dan ditemukan sebagai berikut:
Tabel 1 jumlah cacing dan jumlah telurnya pada usus
ayam buras.

Dari data diatas kita bisa menghitung:
Bila kita
duga bentuk hubungan antara jumlah cacing (X) dan jumlah telurnya (Y) adalah:
Jadi
Ŷ=-2,442 + 4,103 Xi,
Persamaan garis regresi Yi =-2,442 + 4,103 Xi
bukanlah satu-satunya garis penduga untuk menyatakan hubungan antara jumlah
cacing dengan jumlah telurnya. Sudah barang tentu masih banyak lagi bentuk
persamaan penduga yang dapat dibuat misalnya dalam bentuk persamaan Yi=βo+β1Xi+β2Xi2,Yi=βoXiβ1
(dalam bentuk linear LnYi=Ln βo+βiLnXi) dan masih banyak
lagi bentuk yang lainnya.
Untuk
menyatakan apakah garis yang diperoleh cukup baik untuk menggambarkan hubungan
antara peubah bebas (X) dengan peubah tak bebas (Y) dapat dilakukan pengujian
bentuk model yang digunakan dan keeratan hubungannya (korelasi) untuk menyatakan ketepatan dan ketelitian persamaan garis
regresi yang diperoleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar